Selasa, 4 Agustus 2026
Beranda › Tenis & Padel › Footwork
FootworkAdvertorial

Riset: Ini Kenapa Kita Main Cuma dengan 50% Skill Kita

Dua angka di Journal of Sports Sciences 2022, yang bikin saya stop merasa skill saya stuck.

M
Mirza Founder Knit Lab · 4 Agustus 2026 · 7 menit baca
Gimana kalau ternyata, selama ini kamu main cuma pakai 50% dari skill yang udah kamu punya?

Kenapa dua orang yang latihan di tempat yang sama, rutinnya sama, makannya sama, yang satu gerakannya explosive, yang satu ngerasa kakinya berat?

Tahun 2022, empat peneliti nerbitin studi di Journal of Sports Sciences yang ngukur satu kemungkinan yang jarang dilirik orang.

Mereka nggak bandingin dua pemain. Mereka ambil satu pemain, terus disuruh lari lintasan zig-zag yang sama, dua kali. Direkam pakai kamera gerak 3D.

Orangnya sama. Ototnya sama. Harinya sama. Sepatunya sama.

Tapi percobaan kedua lebih cepat 42%.

Pas rekamannya dilambatin, ketauan ada jeda antara ledakan kaki sama sepatunya. Kakinya udah mendorong duluan, sepatunya nyusul belakangan.

Direkam kamera gerak 3D
Kaki kamu udah berangkat. Sepatunya belum.
SEPATUKAKIJEDAJEDA
Ke mana pun kamu gerak, kaki kamu berangkat duluan dan sepatunya nyusul. Dan kaki yang lagi geser, belum bisa dorong.
Karena sehelai kaos kaki.

Kedengerannya kecil. Sepersekian detik, beberapa milimeter.

Tapi kamu pasti pernah dibilangin pelatih: kamu kejauhan sama bolanya, atau kamu kedeketan.

Sekarang coba pikir, jarak kamu ke bola itu diukur dari mana.

Dari kaki kamu. Semua posisi badan kamu numpang di situ.

Jadi pas kaki kamu geser di dalam sepatu, titik kontak kamu ikut pindah.

Titik kontak
Kaki geser dikit, titik kontaknya kegeret ke badan.
Pemain tenis dilihat dari samping, titik kontak hijau di depan badan dan titik kontak merah yang kegeret mepet ke badan
Hijau: titik kontak yang kamu mau, jauh di depan badan. Merah: yang kejadian pas kaki kamu geser duluan. Itu rasa keteteran yang kamu kira salah spacing.

Pelatih ngajarin kamu supaya badan kamu nggak goyang waktu mukul. Itu bener.

Yang nggak ada ngecek: badan kamu bisa goyang bukan karena teknik kamu jelek, tapi karena kaki kamu pindah tempat di dalam sepatu.

Bukan spacing kamu yang salah.

Kalau sekarang kamu mikir saya nyari-nyari jurnal ini karena mau jualan kaos kaki, saya paham. Saya juga bakal mikir gitu.

TAPI, kasih saya 2 menit.

Terlepas kamu beli atau enggak, setidaknya kamu bakal dapet 2 hal.

  • Satu, cara nyobain kaos kaki ini yang GRATIS 100%.
  • Dua, cara dapetin cuan 500 ribu dari kaos kaki ini.

Tapi sebelum sampai ke situ, saya mau cerita dulu kenapa saya bisa nyampe ke jurnal itu.

Bukan karena saya rajin baca jurnal.

Saya nyari karena saya ngerasain slip-nya duluan. Sampai yang paling parah, jempol saya hitam dan saya nggak bisa pakai sepatu.

Kuku jempol kaki kanan menghitam, difoto bertelanjang kaki di atas lantai keramik
Kaki saya sendiri. Kuku jempol kanan, setelah beberapa bulan main rutin.

Dan saya biasa aja.

Saya pikir itu emang bagian dari risiko olahraga yang isinya lari nyamping dan ganti arah mendadak.

Sampai satu sore saya latihan di rumah

Saya harus akuin, saya ke-tenis-an. Jadi di rumah pun saya sering shadow.

Waktu itu saya nggak pakai sepatu. Nggak pakai kaos kaki. Kaki nempel langsung ke keramik.

Dan gerakan saya kerasa beda. Cepat. Explosive.

Malam itu saya browsing sampai jam dua pagi. Dan nemu studi tadi.

Tapi badan saya bukan bukti

Bisa aja itu cuma perasaan saya. Jadi saya nggak berhenti di situ.

Dari malang-melintang di macam-macam coaching dan mabar, saya kenal cukup banyak pemain buat saya ajak ngobrol. 87 orang, dari upper beginner, intermediate, sampai coach bersertifikat ITF.

Saya nanya satu hal: kalian ngerasain yang sama nggak?

Ternyata iya. Malah di level di atas saya lebih sering. Makin tinggi pace mainnya, makin ini jadi makanan sehari-hari mereka.

Survey Knit Lab
Keluhan paling sering, 87 pemain tenis dan padel di Indonesia
Kaki slip pas gerak nyamping32,5%
Telapak pegal setelah main30%
Kaos kaki melorot ke dalam sepatu17,5%
Bau kaki yang nggak hilang17,5%
Kaki panas atau gatal15%
Lecet12,5%
Survey Knit Lab, 87 pemain tenis dan padel aktif, April 2026. Boleh pilih lebih dari satu keluhan.

Dua yang paling atas dua-duanya soal kaki yang nggak diem di dalam sepatu.

Semua yang mereka coba, selalu ada tumbalnya

Saya nanya satu per satu, mereka udah nyoba apa aja.

  • Ganti sepatu yang lebih pas. Awalnya nggeser berkurang. Beberapa bulan kepakai, longgarnya balik lagi. Duit jutaan, masalahnya nunda doang.
  • Kaos kaki di-double. Geserannya pindah ke antara dua kaos kakinya. Sepatu jadi sempit, kaki malah sakit dan cepet panas.
  • Kaos kaki grip yang bawahnya karetan. Bawahnya emang nggeser. Tapi karetnya rontok abis beberapa kali cuci, dan bagian atas kaki tetap jalan sendiri.

Polanya sama semua.

Tiap solusi nutup satu masalah, terus bikin masalah baru. Nggak ada satu pun yang beres tanpa ninggalin PR.

Jadi semua orang milih. Mau nahan yang mana, dan rela ngorbanin yang mana.

“Tapi sol sepatu saya nge-grip banget kok”

Ini keberatan pertama yang keluar dari hampir semua orang yang saya ajak ngobrol.

“Sepatu saya solnya nge-grip banget kok di lapangan.”

Bener. Dan itu justru yang bikin ini kelewat terus.

Peneliti tadi juga ngukur bagian itu. Sol ke lantai nyengkeram sama kuatnya di dua percobaan. Nol beda.

Jadi sepatu kamu emang udah bener. Dia megang lantai dengan baik.

Yang nggak pernah dicek siapa pun, apa yang kejadian di atas sol itu.

Coba sekarang, 30 detik
Cabut insole sepatu kamu. Taruh di lantai.
  1. Cabut insole dari sepatu kamu, taruh di lantai.
  2. Berdiri di atasnya, pakai kaos kaki yang biasa kamu pakai main.
  3. Coba gerak nyamping cepat, kayak mau ngejar bola.
Kaki kamu bakal geser di atas insole itu. Padahal insole-nya diem, nempel di lantai. Yang geser kaki kamu, bukan sepatunya.

Itu yang kejadian tiap kali kamu main. Bedanya, pas lagi main kamu nggak ngerasa, karena perhatian kamu penuh ke bola.

Yang kamu kehilangan
Kamu sampai. Tapi telat.
Pemain tenis lari mengejar bola dengan jejak gerak hijau yang tertinggal jauh di belakang badannya
Tenaga yang kamu keluarin, sebagian ketinggalan di belakang. Bukan kebuang di lapangan, kebuang di dalam sepatu kamu.
49%
Segini potensi speed, explosive, dan power kamu yang kebuang gara-gara kaos kaki biasa.

Apps, Dawson, Shering & Siegkas (2022). Grip socks improve slalom course performance and reduce in-shoe foot displacement. Journal of Sports Sciences, 40(12).

Kamu nggak perlu percaya saya

Mungkin kamu mikir: kalau kaki saya beneran geser, masa saya nggak ngerasa?

Kamu ngerasa. Tiap kali main. Cuma selama ini kamu bacanya sebagai hal lain.

Cek dua hal ini. Dua-duanya kejadian tiap kali kamu main.

  • Kamu ngencengin tali sepatu di tengah-tengah main. Padahal pas mulai udah kenceng.
  • Telapak kaki kamu pegal abis main, kadang masih kerasa besok paginya.

Sepatunya nggak berubah ukuran. Kaos kakinya juga nggak jalan sendiri.

Yang pindah posisi itu kaki kamu, di dalam sepatu.

Dan kalau geserannya udah kelewat sering, dia mulai ninggalin bekas:

  • Kuku jempol yang biru atau menghitam
  • Lecet di sisi jempol atau di tumit
  • Telapak yang pegal, kadang masih kerasa besoknya

Nggak semua orang sampai ke tiga yang ini, dan nggak harus. Yang dua di atas tadi aja udah cukup.

Terus kenapa nggak ada yang pernah ngomongin?

Karena ini nggak pernah muncul sebagai kesalahan. Dia muncul sebagai tali sepatu yang kayaknya kendor, atau kaki yang lecet. Dan nggak ada pelatih yang ngoreksi lecet.

Makanya saya putusin mulai serius

Saya gandeng perusahaan sock engineer dari Korea, yang kaos kakinya dipakai Son Heung-min, kapten timnas Korea. Habis puluhan juta, riset hampir empat bulan.

Targetnya cuma satu: nyalurin semua tenaga dari kaki kamu sampai ke tangan, tanpa ada yang bocor di tengah jalan.

Nggeser berhenti, tanpa kaki jadi sempit. Empuk, tanpa feel bola hilang. Dan gripnya nggak rontok abis dicuci.

Knit Lab

Dual-Grip™ Compression Sock
  • Dual-Grip MechanismDua lapis pegangan, kaki ke sock dan sock ke sepatu. Kaki terkunci pas belok mendadak.
  • Ankle Lock Heel-CupTumit nggak kedongkrak waktu ngerem.
  • Bantalan Memeluk LembutEmpuk di titik tumpu, tapi tetap tipis biar feel bola nggak hilang.
Dua lapisan grip: bagian luar mengunci ke sepatu, bagian dalam mengunci ke kaki

Jadi pas kamu berhenti, plant, atau ganti arah, kaki langsung nurut.

Tenaga yang tadinya kebuang, balik jadi daya ledak di langkah pertama. Tanpa nambah jam latihan. Tanpa ganti sepatu mahal.

Kaki kamu nggak pernah lambat. Yang selama ini ngerem kamu, ada di dalam sepatu.
87
pemain aktif nyoba duluan

Upper beginner, intermediate, sampai coach bersertifikat ITF. Semuanya sebelum produknya dijual.

Tadi saya janji: cara nyobain yang GRATIS 100%

Ini caranya.

Pakai di latihan beneran, bukan cuma dicoba di rumah. Empat belas hari.

Kalau setelah 14 hari kaki kamu masih slip, kirim balik, uang kembali penuh. Boleh dibalikin walaupun udah dipakai.

Jadi kalau nggak ngefek, ujungnya kamu nggak keluar duit sama sekali. Yang taruhan di sini saya, bukan kamu.

Coba 14 Hari Tanpa Risiko14 hari tidak puas, refund 100%.

Dan tadi saya janji: cara dapetin cuan 500 ribu

Ini bukan afiliasi yang nyuruh kamu jadi sales.

Kamu daftar sekali, kami kirim link kamu lewat WhatsApp. Tanpa nama kamu, tanpa identitas kamu. Temen kamu nggak akan tahu kamu lagi dapet komisi.

Tiap temen yang beli lewat link itu, Rp50.000 masuk ke rekening kamu. Dan temen kamu juga hemat Rp50.000 di pesanan pertamanya.

Sepuluh temen mabar, lima ratus ribu. Dan kamu datang bawa diskon, bukan bawa jualan.

Cairnya 1×24 jam. Kalau temen kamu bayar di muka, cair setelah pembayarannya masuk. Kalau COD, cair setelah barangnya sampai di tangan dia.

Nggak perlu nagih. Jalan sendiri.

Kaki kamu udah ngasih tandanya dari dulu. Sekarang kamu tahu itu tanda apa.

Mirza

Founder, Knit Lab

PS. Masih ragu? Wajar. Coba dulu, buktiin di lapangan. Ada garansi 14 hari, dan boleh diretur walaupun udah dipakai.

FootworkTenisPadelCedera KakiPerlengkapan
Footwork Lab
Publikasi milik Knit Lab. Artikel ini konten advertorial yang ditulis dan dibiayai Knit Lab.