Riset: Ini Kenapa Kita Main Cuma dengan 50% Skill Kita
Dua angka di Journal of Sports Sciences 2022, yang bikin saya stop merasa skill saya stuck.
Kenapa dua orang yang latihan di tempat yang sama, rutinnya sama, makannya sama, yang satu gerakannya explosive, yang satu ngerasa kakinya berat?
Tahun 2022, empat peneliti nerbitin studi di Journal of Sports Sciences yang ngukur satu kemungkinan yang jarang dilirik orang.
Mereka nggak bandingin dua pemain. Mereka ambil satu pemain, terus disuruh lari lintasan zig-zag yang sama, dua kali. Direkam pakai kamera gerak 3D.
Orangnya sama. Ototnya sama. Harinya sama. Sepatunya sama.
Tapi percobaan kedua lebih cepat 42%.
Pas rekamannya dilambatin, ketauan ada jeda antara ledakan kaki sama sepatunya. Kakinya udah mendorong duluan, sepatunya nyusul belakangan.
Kedengerannya kecil. Sepersekian detik, beberapa milimeter.
Tapi kamu pasti pernah dibilangin pelatih: kamu kejauhan sama bolanya, atau kamu kedeketan.
Dari kaki kamu. Semua posisi badan kamu numpang di situ.
Jadi pas kaki kamu geser di dalam sepatu, titik kontak kamu ikut pindah.

Pelatih ngajarin kamu supaya badan kamu nggak goyang waktu mukul. Itu bener.
Yang nggak ada ngecek: badan kamu bisa goyang bukan karena teknik kamu jelek, tapi karena kaki kamu pindah tempat di dalam sepatu.
Kalau sekarang kamu mikir saya nyari-nyari jurnal ini karena mau jualan kaos kaki, saya paham. Saya juga bakal mikir gitu.
TAPI, kasih saya 2 menit.
Terlepas kamu beli atau enggak, setidaknya kamu bakal dapet 2 hal.
- Satu, cara nyobain kaos kaki ini yang GRATIS 100%.
- Dua, cara dapetin cuan 500 ribu dari kaos kaki ini.
Tapi sebelum sampai ke situ, saya mau cerita dulu kenapa saya bisa nyampe ke jurnal itu.
Bukan karena saya rajin baca jurnal.
Saya nyari karena saya ngerasain slip-nya duluan. Sampai yang paling parah, jempol saya hitam dan saya nggak bisa pakai sepatu.

Dan saya biasa aja.
Saya pikir itu emang bagian dari risiko olahraga yang isinya lari nyamping dan ganti arah mendadak.
Sampai satu sore saya latihan di rumah
Saya harus akuin, saya ke-tenis-an. Jadi di rumah pun saya sering shadow.
Waktu itu saya nggak pakai sepatu. Nggak pakai kaos kaki. Kaki nempel langsung ke keramik.
Dan gerakan saya kerasa beda. Cepat. Explosive.
Malam itu saya browsing sampai jam dua pagi. Dan nemu studi tadi.
Tapi badan saya bukan bukti
Bisa aja itu cuma perasaan saya. Jadi saya nggak berhenti di situ.
Dari malang-melintang di macam-macam coaching dan mabar, saya kenal cukup banyak pemain buat saya ajak ngobrol. 87 orang, dari upper beginner, intermediate, sampai coach bersertifikat ITF.
Saya nanya satu hal: kalian ngerasain yang sama nggak?
Ternyata iya. Malah di level di atas saya lebih sering. Makin tinggi pace mainnya, makin ini jadi makanan sehari-hari mereka.
Dua yang paling atas dua-duanya soal kaki yang nggak diem di dalam sepatu.
Semua yang mereka coba, selalu ada tumbalnya
Saya nanya satu per satu, mereka udah nyoba apa aja.
- Ganti sepatu yang lebih pas. Awalnya nggeser berkurang. Beberapa bulan kepakai, longgarnya balik lagi. Duit jutaan, masalahnya nunda doang.
- Kaos kaki di-double. Geserannya pindah ke antara dua kaos kakinya. Sepatu jadi sempit, kaki malah sakit dan cepet panas.
- Kaos kaki grip yang bawahnya karetan. Bawahnya emang nggeser. Tapi karetnya rontok abis beberapa kali cuci, dan bagian atas kaki tetap jalan sendiri.
Polanya sama semua.
Tiap solusi nutup satu masalah, terus bikin masalah baru. Nggak ada satu pun yang beres tanpa ninggalin PR.
“Tapi sol sepatu saya nge-grip banget kok”
Ini keberatan pertama yang keluar dari hampir semua orang yang saya ajak ngobrol.
“Sepatu saya solnya nge-grip banget kok di lapangan.”
Bener. Dan itu justru yang bikin ini kelewat terus.
Peneliti tadi juga ngukur bagian itu. Sol ke lantai nyengkeram sama kuatnya di dua percobaan. Nol beda.
Jadi sepatu kamu emang udah bener. Dia megang lantai dengan baik.
Yang nggak pernah dicek siapa pun, apa yang kejadian di atas sol itu.
- Cabut insole dari sepatu kamu, taruh di lantai.
- Berdiri di atasnya, pakai kaos kaki yang biasa kamu pakai main.
- Coba gerak nyamping cepat, kayak mau ngejar bola.
Itu yang kejadian tiap kali kamu main. Bedanya, pas lagi main kamu nggak ngerasa, karena perhatian kamu penuh ke bola.

Apps, Dawson, Shering & Siegkas (2022). Grip socks improve slalom course performance and reduce in-shoe foot displacement. Journal of Sports Sciences, 40(12).
Kamu nggak perlu percaya saya
Mungkin kamu mikir: kalau kaki saya beneran geser, masa saya nggak ngerasa?
Kamu ngerasa. Tiap kali main. Cuma selama ini kamu bacanya sebagai hal lain.
Cek dua hal ini. Dua-duanya kejadian tiap kali kamu main.
- Kamu ngencengin tali sepatu di tengah-tengah main. Padahal pas mulai udah kenceng.
- Telapak kaki kamu pegal abis main, kadang masih kerasa besok paginya.
Sepatunya nggak berubah ukuran. Kaos kakinya juga nggak jalan sendiri.
Dan kalau geserannya udah kelewat sering, dia mulai ninggalin bekas:
- Kuku jempol yang biru atau menghitam
- Lecet di sisi jempol atau di tumit
- Telapak yang pegal, kadang masih kerasa besoknya
Nggak semua orang sampai ke tiga yang ini, dan nggak harus. Yang dua di atas tadi aja udah cukup.
Terus kenapa nggak ada yang pernah ngomongin?
Karena ini nggak pernah muncul sebagai kesalahan. Dia muncul sebagai tali sepatu yang kayaknya kendor, atau kaki yang lecet. Dan nggak ada pelatih yang ngoreksi lecet.
Makanya saya putusin mulai serius
Saya gandeng perusahaan sock engineer dari Korea, yang kaos kakinya dipakai Son Heung-min, kapten timnas Korea. Habis puluhan juta, riset hampir empat bulan.
Targetnya cuma satu: nyalurin semua tenaga dari kaki kamu sampai ke tangan, tanpa ada yang bocor di tengah jalan.
Nggeser berhenti, tanpa kaki jadi sempit. Empuk, tanpa feel bola hilang. Dan gripnya nggak rontok abis dicuci.
Knit Lab
- Dual-Grip MechanismDua lapis pegangan, kaki ke sock dan sock ke sepatu. Kaki terkunci pas belok mendadak.
- Ankle Lock Heel-CupTumit nggak kedongkrak waktu ngerem.
- Bantalan Memeluk LembutEmpuk di titik tumpu, tapi tetap tipis biar feel bola nggak hilang.

Jadi pas kamu berhenti, plant, atau ganti arah, kaki langsung nurut.
Tenaga yang tadinya kebuang, balik jadi daya ledak di langkah pertama. Tanpa nambah jam latihan. Tanpa ganti sepatu mahal.
Upper beginner, intermediate, sampai coach bersertifikat ITF. Semuanya sebelum produknya dijual.
Tadi saya janji: cara nyobain yang GRATIS 100%
Ini caranya.
Pakai di latihan beneran, bukan cuma dicoba di rumah. Empat belas hari.
Kalau setelah 14 hari kaki kamu masih slip, kirim balik, uang kembali penuh. Boleh dibalikin walaupun udah dipakai.
Jadi kalau nggak ngefek, ujungnya kamu nggak keluar duit sama sekali. Yang taruhan di sini saya, bukan kamu.
Dan tadi saya janji: cara dapetin cuan 500 ribu
Ini bukan afiliasi yang nyuruh kamu jadi sales.
Kamu daftar sekali, kami kirim link kamu lewat WhatsApp. Tanpa nama kamu, tanpa identitas kamu. Temen kamu nggak akan tahu kamu lagi dapet komisi.
Tiap temen yang beli lewat link itu, Rp50.000 masuk ke rekening kamu. Dan temen kamu juga hemat Rp50.000 di pesanan pertamanya.
Cairnya 1×24 jam. Kalau temen kamu bayar di muka, cair setelah pembayarannya masuk. Kalau COD, cair setelah barangnya sampai di tangan dia.
Nggak perlu nagih. Jalan sendiri.
Kaki kamu udah ngasih tandanya dari dulu. Sekarang kamu tahu itu tanda apa.
Mirza
Founder, Knit Lab
PS. Masih ragu? Wajar. Coba dulu, buktiin di lapangan. Ada garansi 14 hari, dan boleh diretur walaupun udah dipakai.
Pilih 3 kartu di bawah ini
Dapatkan hadiah atau diskon.
Pilih 3 kartu
Tinggal 1 klik lagi untuk klaim bonus 100 ribu kamu.
Waktu main, yang paling ganggu kamu yang mana?
Biar saya nggak salah kasih penawaran ke kamu.
Potongan Rp100.000 udah kesimpen.
Nggak ada kode yang perlu kamu catat atau ketik. Diskonnya kesimpen di browser kamu, di tab ini.
- 1Tutup kotak ini, lanjut baca artikelnya sampai selesai.
- 2Pas kamu klik tombolnya nanti, kamu otomatis diarahin ke halaman yang harganya udah kepotong Rp100.000. Kamu nggak perlu ngapa-ngapain lagi.
Tapi dia cuma hidup di tab ini. Begitu tab-nya kamu tutup, diskonnya hilang dan harganya balik normal.